Aku Ingin Bicara Dengan Hatimu

Kita perlu bicara. Membahas tentang hal penting yang seharusnya terjadi. Agar, hatimu itu tetap baik.

Tak perlulah rasanya berubah menjadi kasar, menjadi pemberontak, menjadi pendendam, menjadi yang terlihat sok cekakan dan ceria, menjadi seperti yang paling menggebu semangatnya atau apa. Menjadi yang bukan dirimu adanya : Menjadi kepura-puraan.

Rasanya seperti tak adil. Tapi itu kata hatimu. Padahal inilah yang terbaik menurut Nya.
Hatimu hanya perlu waktu untuk lebih tenang dan menerima. Balajar untuk menjadi lebih yakin dengan titah Nya, belajar untuk menerima dengan syukur. Karena dengan begitu, kau tak akan berada dalam kepura-puraan yang sesak dengan amarah dan sakit hati.

Tetaplah menjadi baik. Karena sebelumnya sudah menjadi baik. Jangan sampai layu dan terbakar dengan kobaran rasa tidak menerima dan terlukai.

Allah, tidak mungkin salah menulis scenario kehidupan untuk hamba Nya.
Allah, tidak mungkin membiarkan kita untuk menjadi layu dan semakin kering mengkeriput.

sakit-hati-285x300

Kita hanya perlu untuk menarik nafas panjang. Memaknai syukur dan kembali menata yakin. Yang terpenting, tetap menjadi baik dengan semuanya. Seperti sebelum ini terjadi. Menjadi yang paling semangat, menjadi yang ceria, menjadi yang ramah dan menyenangkan, menjadi yang bersahabat. Menjadi diri yang bukan dalam kepura-puraan.

*Untuk sahabat, ukhti.., keep sabar dan tetap menjadi hatimu yang dulu. Yang baik dan apa adanya.. 🙂 *

Iklan

Ketika 22 Tahun mu

we are kompak team, the best team…

we love u so much…Dewi.

18 Oktober 2012

Bilang apa ya? Harus katakan apa? Hari ini, 18 Oktober, jika bertahun yang lalu ada cerita tentang tanggal ini. Tapi sekarang, ceritanya sudah sangat berbeda.

Dan aku sudah memutuskan untuk mengganti photo profilku di akun facebook. Bukan karena ingin melupakan, tapi aku harus move on. Kembali menata semangat untuk menjadi lebih baik lagi dalam hidup. Sebelum, -waktuku- juga tiba.

Maaf, baru hari ini aku bisa kembali menulis isi hati. Tentangmu.

Dan sepertinya, aku belum mampu menulis lebih banyak. Aku hanya mengumpulkan beberapa status, tentangmu.

  • “18 oktober 2012, 22 tahun seharusnya..”

(pada 18 Oktober)

  • “hidup ini cukup singkat.

dan kau ingatkan aku untuk masaku itu.

sayangnya, apa yang kau alami kini tak bisa kau ceritakan lagi.

Kau hamparkan ayat kebesaran Mu.

dan kubaca dengan terbata.

takut jikalau masa tak cukup lama,

untukku menikmati jamuan cinta Mu.

Duhai Zat Yang Maha Agung,

dengan atau tanpa teman.

aku akan berjalan.

menapaki tiap lembar yang harus ku baca.

berkomitmen dengan hati untuk terus menjadi yang terbaik di hadapan Mu.

Duhai Zat Yang Maha Suci,

dengan atau tanpa teman.

aku akan terus melangkah.

mencari sebenar-benarnya cinta.

di dunia.

#terima kasih telah mengingatkanku, Dewi#

(pada 14 Oktober)

  • “dan aku juga pernah membaca diary mu diam-diam. di sana ada tulisan tentangku.
    sekarang bagian diary itu, tulisan mu itu. masih tersimpan rapi. ku baca lagi, kemarin.
    Betapa Allah sangat menyayangimu…”
    #DK

(pada 14 Oktober)

  • “kawan, beritahu aku, hal apa yang bisa membuat Allah menjadi lebih mencintai kita..?”

(pada 13 Oktober)

  • “itulah mengapa Allah memberikan dua telinga untuk kita”

(pada 12 Oktober)

  • “Aku ingin mencintai orang-orang di sekitarku dengan lebih maksimal. (memaafkan luka, menyembuhkan kecewa dan kembali menata percaya. aku akan belajar mecinta dengan ikhlas karena Allah….)

Aku ingin mewujudkan lebih banyak impian, meninggalkan jejak terbaik               sepanjang tapakku…(karena islam itu adalah tentang berbagi, penuh semangat  dan selalu bermanfaat )

Aku tak pernah tau kapan Dia akan memanggil. Itulah maka aku hanya ingin akhir hidup ini dengan sebaik-baik keadaan…
#life must go on, kepergianmu telah mengajarkanku banyak hal..terima kasih Dewi..#

(pada 10 Oktober )

  • “tetap saja, waktu tidak bisa ku putar kembali. tapi aku akan berusaha belajar mengaji sebaik mungkin. hingga aku bisa mengajarkan pada yg lain.
    sama ketika dulu kau berkata..”ucy, ajarin gue ngaji. sama artinya, biar gue paham ciiii..”maaf. itu belum bisa terwujud Dew…, semoga Allah mengganti niat baikmu itu dengan Jannah Nya.

#Dewi Kartika (18/10/1990 – 08/10/2012)

(pada 9 Oktober)

  • “dari pagi udah menghimpun semangat setinggi-tingginya. udah ngumpulin energi positif sebanyak mungkin. menjelang siang, kabar duka itu datang. dan pekat seketika.sekarang, tinggal bertiga. — dengan Amheell Ittuch Verra danDawin Dua Cahaya.

(pada 8 Oktober)

Dawin, Dewi, 4mel, 5uci (D245)

 

 

Sebuah Ingin Yang Harusnya Kau Tahu

Suatu hari dalam kehidupan kita, sudah atau nanti yang akan datang. Kelak ketika masa itu terjadi. Kau dihadapkan pada sebuah putaran waktu yang sangat cepat, yakni untuk mengambil keputusan.

Seseorang datang dan menyatakan keseriusannya. Dia ingin menjalani hari-harinya denganmu. Menua dan mewujudkan banyak impian bersamamu. Sebuah perkenalan singkat yang mempertemukan kalian. Tak berhenti disitu. Karena jarak tak terhambat. Komunikasi berlanjut seiring kemudahan teknologi yang ada.

Banyak perbincangan yang mengalir. Ada perdebatan, ada tanya jawab, ada saling menyemangati, terkadang saling mengingatkan dan ada lelucon yang manis.

Klik. Itukah sebuah rasa yang terkoneksi dengan cepat? Bagaimana rasanya jika kau haus dan mendapatkan segelas air? Kau seperti mendapatkan nyawa baru setelah meminum air itu. Begitukah jika kau mendapat seorang yang memiliki banyak kesamaan denganmu.

Rasa selalu menerka. Antara sesuatu dalam ketidakpastian. Dan itu sangat tidak nyaman!

Maka begitulah sang Adam seharusnya. Mencari pasti.

Dan masa itu datang padamu yang sedang berada pada pelbagai warna hidup. Itulah yang akan dinamakan bimbang.

Karena sebentar, maka belum lama mengenal sudah pasti tak banyak tahu. Dia dan sekotak perjalanan hari. Dia bertanya A, kau menjawab B. Dia menyanggah ini kau meyakinkan itu. Waktu memburu, harap menanti kepastian, dan bimbang yang meranggas. Menjadikanmu takut, dan memilih lebih baik tidak. Inginmu, bukan sekarang memutuskan. Tapi terlambat. Nalurinya telah mengartikan demikan. Sebuah keputusan untuk tidak melanjutkan.

Malam itu, kau tertegun. Pada sebuah layar yang redup terang. Tarikan nafas yang berulang tak cukup mengembalikan sebuah keadaan menjadi; tenang.

Hilang melanda, salah menerkam. Dan permintaan hati yang belum pernah usai hingga hari ini.

Tapi amarahmu tak dapat terhenti pada sebuah cerita tentangnya. Karena inilah rel kehidupan. Mempertemukan dan memisahkan. Stasiun yang dituju adalah kebahagiaan. Tapi waktu keberangkatan dan tempat perberhentian yang berbeda.

Dia dengan secangkir kopi, kau dan teh hangat manis. Pada jarak yang terbentang. Ketika mereka sama-sama tahu signal yang menyala tanda kehadiran pada dunia maya. Tapi tak ada sebuah sapa dan perbincangan lagi.

Dirimu tak pernah tahu warna hatinya kini. Mungkin dan sepertinya telah kembali putih seperti semula. Namun ketika kau menoleh dan mendapati putih hatimu luntur. Kau masih merindukan maaf. Apakah karena waktu yang lambat berjalan, atau memang masih ada luka dengannya.

Jika sebuah tanya mengalir, adakah jawaban maaf itu tulus?

 

Kamarimaji,040112, 11:06