Sebuah Ingin Yang Harusnya Kau Tahu

Suatu hari dalam kehidupan kita, sudah atau nanti yang akan datang. Kelak ketika masa itu terjadi. Kau dihadapkan pada sebuah putaran waktu yang sangat cepat, yakni untuk mengambil keputusan.

Seseorang datang dan menyatakan keseriusannya. Dia ingin menjalani hari-harinya denganmu. Menua dan mewujudkan banyak impian bersamamu. Sebuah perkenalan singkat yang mempertemukan kalian. Tak berhenti disitu. Karena jarak tak terhambat. Komunikasi berlanjut seiring kemudahan teknologi yang ada.

Banyak perbincangan yang mengalir. Ada perdebatan, ada tanya jawab, ada saling menyemangati, terkadang saling mengingatkan dan ada lelucon yang manis.

Klik. Itukah sebuah rasa yang terkoneksi dengan cepat? Bagaimana rasanya jika kau haus dan mendapatkan segelas air? Kau seperti mendapatkan nyawa baru setelah meminum air itu. Begitukah jika kau mendapat seorang yang memiliki banyak kesamaan denganmu.

Rasa selalu menerka. Antara sesuatu dalam ketidakpastian. Dan itu sangat tidak nyaman!

Maka begitulah sang Adam seharusnya. Mencari pasti.

Dan masa itu datang padamu yang sedang berada pada pelbagai warna hidup. Itulah yang akan dinamakan bimbang.

Karena sebentar, maka belum lama mengenal sudah pasti tak banyak tahu. Dia dan sekotak perjalanan hari. Dia bertanya A, kau menjawab B. Dia menyanggah ini kau meyakinkan itu. Waktu memburu, harap menanti kepastian, dan bimbang yang meranggas. Menjadikanmu takut, dan memilih lebih baik tidak. Inginmu, bukan sekarang memutuskan. Tapi terlambat. Nalurinya telah mengartikan demikan. Sebuah keputusan untuk tidak melanjutkan.

Malam itu, kau tertegun. Pada sebuah layar yang redup terang. Tarikan nafas yang berulang tak cukup mengembalikan sebuah keadaan menjadi; tenang.

Hilang melanda, salah menerkam. Dan permintaan hati yang belum pernah usai hingga hari ini.

Tapi amarahmu tak dapat terhenti pada sebuah cerita tentangnya. Karena inilah rel kehidupan. Mempertemukan dan memisahkan. Stasiun yang dituju adalah kebahagiaan. Tapi waktu keberangkatan dan tempat perberhentian yang berbeda.

Dia dengan secangkir kopi, kau dan teh hangat manis. Pada jarak yang terbentang. Ketika mereka sama-sama tahu signal yang menyala tanda kehadiran pada dunia maya. Tapi tak ada sebuah sapa dan perbincangan lagi.

Dirimu tak pernah tahu warna hatinya kini. Mungkin dan sepertinya telah kembali putih seperti semula. Namun ketika kau menoleh dan mendapati putih hatimu luntur. Kau masih merindukan maaf. Apakah karena waktu yang lambat berjalan, atau memang masih ada luka dengannya.

Jika sebuah tanya mengalir, adakah jawaban maaf itu tulus?

 

Kamarimaji,040112, 11:06

Iklan

2 pemikiran pada “Sebuah Ingin Yang Harusnya Kau Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s