Sebuah Tart Dalam Pengharapan…


Kau tahu? Aku telah menyetting Nokia manisku pada 26 Desember 2011. Memasangkan sebuah peringatan bahwa dua hari lagi adalah hari istimewamu. Dan aku, masih menerka. Apa yang dapat kuberi?

Sebuah alarm masih berbunyi di pagi selanjutnya, setelah kemarin aku setting ‘tunda’ pada pengaturan ultah my sist. Sehari sebelum hari istimewamu, dan aku masih menerka. Bisa mengirimkan apa untukmu?

Bukan masalah ini tanggal berapa, bukan karena perkara tanggal tua atau muda. Tapi maafkan, jika ternyata nominal yang kumiliki memang tak sampai teralokasikan untuk hari istimewamu. Kau mungkin juga tahu, berapa angka yang sering kali bertengger dalam slipku bulan-bulan yang lalu..?

Kucari cara yang tak sederhana. Aku hubungi beberapa teman dekat kita. Semoga dengan dua atau tiga jiwa, aku bisa menghadirkan satu kejutan yang manis untukmu, sahabatku.

Satu orang, tak bisa. Yang lain, belum ada jawaban.

Hingga larut menjelang di 27 Desember, akhirnya ada titik terang. Tapi semua memang masih dalam sebuah pengharapan.

Sahabat macam apa aku? Tak bisa menghadiahkan yang kau mau. Ah, memang aku tak pantas disebut sahabatmu.

Pagi menjelang hari istimewamu.

Aku tahu ucapan dan doa yang mampir pada wall fb mu. Tapi aku ragu untuk menuliskan untukmu. Hanya inikah yang mampu kuberi..? Sahabat seperti apa aku..??

Bukan,bukan aku lupa tentang hari ini. Tapi aku tak tahu harus memperindahnya dengan cara apa? Mengirim doa untukmu pun aku malu.

Kau tahu? Kita memang sering kali beda pendapat, kadang bertengkar. Kadang saling egois. Ya, terlalu banyak ulah kita. Tapi namamu, tersimpan dalam sudut hatiku. Mungkin, tanpa pernah kau sadari itu.

Malam itu, aku tak pernah tahu kau di mana dan bagaimana hari istimewamu. Semoga kau bahagia, meski aku tak pernah dapat mengirimkan sesuatu yang kau senangi.

Sebuah tart dalam pengharapan, yang ku rangkai dalam batas inginku bisa melihat senyummu malam itu, ternyata tak bisa hadir bersamaku. Tak apakah?

Aku melihat senyummu pada sebuah album yang dikirim seorang sahabat. Malam itu, kau dan mereka dengan sebuah tart yang penuh senyum keceriaan. Dan aku, tak bisa menghadirkan bahagia untukmu, sahabat…

Maaf, mungkin aku belum pantas menyandang status sebagai sahabatmu. Karena aku tak pernah dapat mengukir hari bahagia untukmu. Aku memang payah!

Tapi, aku yakin namaku juga pernah tersimpan dalan hatimu.

Semoga bahagia dan keberkahan dari Yang Maha Memiliki Jiwa kita, senantiasa tercurah untukmu.

 

#ini untukmu, DMS… , T___T

(301211, 11:12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s